Serangan Umum 1 Maret! Kamu Belum Tahu?

Serangan Umum 1 Maret

serangan umum 1 maret
serangan umum 1 maret

Serangan umum 1 maret pada Akhir tahun 1948 bukanlah waktu yang menguntungkan bagi kaum Republikan. Indonesia yang dikata melemah sehabis melawan Pemberontakan Madiun serta Darul Islam menjadi basis keyakinan Belanda buat melancarkan Operasi Gagak (Operatie Kraai). Operasi militer yang bertujuan buat menguasai Yogyakarta, ibukota Republik saat itu, dikata membuahkan result bagi Belanda. Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, Sutan Syahrir, dan para menteri Republik Indonesia lainnya berhasil ditangkap serta dibuang ke sebuah Pulau Bangka oleh pasukan kolonel Belanda. Tentara Nasional Indonesia (TNI) dikata sudah hilang dari Indonesia. Namun kondisi mulai berbalik tatkala sang Kala mengantarkan Republikan memasuki bulan Maret

Operasi Gagak: sesuatu Agresi Militer Kedua Belanda

Hasil dari Perjanjian Renville mengakibatkan wilayah Indonesia yang makin berkurang serta dibatasi oleh Garis Van Mook. Namun di sisi lain, Indonesia secara tak langsung menemukan pengakuan kedaulatan di mata internasional. Terlebih, dengan ada Garis Van Mook yang bertujuan buat menjamin gencatan senjata antara kedua pisah pihak. Setidaknya hingga Jenderal Soedirman mulai mengalami sebuah yang tak beres

Berdasarkan penuturan dari National Geographic Indonesia, walaupun Yogyakarta (ibukota Republik Indonesia terhadap saat itu) masih safe serta damai, namun Jenderal Soedirman mempunyai firasat buruk jikalau Indonesia akan merasakan kondisi genting. Perjanjian damai yang ditandatangani antara kedua pisah pihak tak dapat menenangkan Panglima Besar TNI tersebut. Jenderal Soedirman yang khawatir akan nasib Indonesia, terutama kota Yogyakarta, tersabit benar dengan dikuasainya sebuah tempat bernama Lapangan Terbang Maguwo oleh tentara Belanda

Adalah Jenderal Simon Hendrik Spoor, Komandan Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL), yang menjadi dalang dari Operasi Gagak (Operatie Kraai). Operasi militer yang oleh pihak Indonesia diberi nama Agresi Militer II Belanda sudah dipersiapkan secara matang oleh Jenderal Spoor. Dari pihak Belanda  sendiri mengatakan jika aksi polisional tersebut bertujuan buat membabat habis ekstrimis-ekstrimis Republikan di Yogyakarta, menguasai ibukota Indonesia, dan menahan para tokoh politik Indonesia

Jika diibaratkan, seperti gagak yang sedang membawa berita kematian, tanggal 19 Desember 1949 banyak pesawat tempur dikerahkan oleh pihak Belanda dengan maksud menguasai Lapangan Terbang Maguwo di Yogyakarta. Diterbangkan dari Bandung, para pesawat tempur Belanda diperintahkan buat membombardir serta menerjunkan sekitar 900 serdadu KNIL. Pertempuran udara yang amat tak seimbang bagi TNI yang cuma mempunyai tiga unit pesawat tempur Zero bekas tentara Jepang. sementara Belanda dipermantap oleh pesawat tempur Kittyhawk serta Mustang, pesawat pengebom B-25 Mitchell, serta pesawat angkut Douglas DC-3

Monsignor A. Soegijapranata SJ, uskup Indonesia, menjadi saksi serangan udara Belanda di Yogyakarta. melewati catatan hariannya, beliau menggambarkan betapa mencekam suasana Yogyakarta terhadap saat itu

“sekitar. jam 1000. pagi Belanda mulai mendatangkan tiga pesawat pembom. Sesudah berputar di atas kota, mereka menjatuhkan bom, terus menerus berjatuhan, susul-menyusul meledak, dengan tidak reda. Di mana-mana terdengar deru mesin pesawat terbang, bunyi tembakan senapan, rentetan ledakan senapan mesin berikut dentuman meriam. sebanyak pengungsi mulai masuk ke Pasturan Bintaran”

Kota Yogyakarta telah  berhasil dikuasai oleh tentara Belanda. Tak hanya itu, pemerintah Indonesia pun, dikepung oleh pasukan Belanda. Beberapa pahlawan dan orang penting seperti Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, beserta sebanyak menteri lainnya terpaksa mau untuk diasingkan di Pulau Bangka. Para pemimpin sipil berkeinginan jikalau peristiwa penangkapan tersebut dapat menjadi pembentuk opini publik internasional pada ada serangan yang dilaksanakan oleh Belanda. Namun di mata serdadu Republik, para pemimpin sipil dikata menyerah di hadapan Belanda. Sehingga mereka tetap melanjutkan perlawanan secara gerilya. Hingga kemudian, lahirlah sesuatu ide yang kelak menjadi titik balik bagi kedaulatan Indonesia di mata dunia

Enam pukul di Yogyakarta

Setelah Belanda berhasil merebut Yogyakarta, keadaan di ibukota menjadi kacau-balau tidak teratur. Indonesia tak lagi berdaulat di ibukotanya sendiri. Sebagai dampaknya, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) didirikan di Bukittinggi. Perlawanan TNI melewati serangan gerilya secara sporadis tak dapat membalik keadaan. Bahkan Belanda mengumumkan jikalau TNI sudah lenyap. Hingga tiba suatu waktu yang menjadi indikator nasib Indonesia di setelah itu hari

Adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, pahlawan yang pertama menciptakan ide dari sesuatu serangan mendadak di Yogyakarta. rujukan oleh National Geographic Indonesia, Sultan Hamengkubuwono IX mengirimkan surat ke Jenderal Sudirman, meminta izin serangan. Sang Jenderal pun menyetujuinya serta menyuruh Sultan buat menemui Letkol Soeharto yang pada saat itu menjabat sebagai Komandan Brigade 10/Wehrkreise III

Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan dengan cepat mengadakan pertemuan empat mata dengan Letkol Soeharto. Pertemuan tersebut menghasilkan sesuatu rencana Serangan Umum terhadap 1 Maret 1949

Raungan sirene penutup pukul malam terhadap jam 0600. menjadi pembuka serangan dadakan pada Belanda. Sekitar 2500. pasukan TNI berpartisipasi di dalam Serangan Umum 1 Maret. Kota Yogyakarta dikepung dari beragam arah. Pahlawan Mayor Sardjono pun ikut memimpin pasukannya melaksanakan penyerangan dari arah selatan. Dari arah barat, para pasukan gerilya melakukan gempuran pada kota Yogyakarta dipimpin oleh Letkol Soehoed. Sementara dari arah utara, pasukan gerilya yang dipimpin oleh Mayor Soekasno

Kejutan dipilih sebagai modal utama bagi TNI Indonesia selama serangan umum tersebut. Membuat pasukan Belanda kewalahan dalam melawan serangan TNI. Belanda yang pada saat itu awalnya dapat merebut kota Yogyakarta, pada tanggal 1 Maret 1949, kewalahan dalam membalas serangan TNI. Untung bagi tentara Republik, mereka berhasil merampas sebanyak kendaraan lapis baja yang ditinggalkan pasukan Belanda begitu saja

Indonesia cuma memerlukan masa enam pukul buat menguasai kota Yogyakarta. Kemudian, Letkol Soeharto memerintahkan semua pasukan TNI buat mundur tidak membawa Yogyakarta serta kembali menuju posisi yang sudah ditentukan lebih awal. disamping itu, TNI mengawasi lebih ada serangan balik yang dilaksanakan oleh Belanda. Oleh pasal itu, TNI menjauhi hitungan victim yang lebih banyak apabila kontak senjata pecah lagi

Posisi Tawar Indonesia dalam Politik Internasional

Saat Operasi Gagak mulai jalan, di hari yang sama, pihak Amerika Serikat ingin mengadakan sesi pertemuan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai respon atas serangan Belanda yang melanggar Perjanjian Renville. Hasil dari pertemuan tersebut adalah Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 63 yang berisi permintaan terhadap Belanda agar dengan cepat membebaskan Presiden Republik Indonesia beserta politisi lainnya serta mengakhiri konflik. sebanyak resolusi lanjutan pun dikeluarkan oleh Dewan Keamanan buat menindaklanjuti keadaan di Indonesia. Inilah yang setelah itu menjadi basis keterlibatan PBB di dalam menyelesaikan problem kedaulatan Indonesia

Memang Indonesia cuma dikasi masa yang singkat buat menguasai ibukota. Namun serangan tersebut membagikan akibat yang signifikan bagi kaum Republikan. Serangan Umum 1 Maret telah memberikan semangat juga bagi tentara Indonesia serta gerilyawan Indonesia. Mereka telah menunjukkan kepada dunia bahwa TNI masih ada di Indonesia, secara tidak langsung. Serangan tersebut dan merupakan juga mematahkan pernyataan Belanda yang menganggap TNI sudah tiada

Dari sisi diplomatik, urutan peristiwa Operasi Gagak hingga Serangan Umum 1 Maret membagikan posisi tawar Indonesia di dalam politik internasional. Amerika Serikat yang merupakan sekutu Belanda dapat mendorong Belanda buat menyelesaikan gangguan di Indonesia. Hingga diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar di Den Haag menjadi momen pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia yang berlaku terhadap tanggal 27 Desember 1949.

Itulah serangan umum 1 maret. Menarik? Kunjungi LEARNSEJARAH.COM jika kamu menyukai sejarah dan ingin menemukan website pendidikan berkualitas.

You may also like